Skip Ribbon Commands
Skip to main content

News Release

Jakarta

Permintaan Pasar Tetap Positif, Harga Properti Terus Meningkat

Kenaikan Harga Sewa Ruang Kantor Grade A Paling Tinggi


April 11, 2012 - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang didorong oleh permintaan domestik yang kuat serta iklim investasi yang semakin menarik bagi investor asing turut membantu peningkatan pasar properti Indonesia khususnya di Jakarta dalam beberapa bulan terakhir ini. Aktivitas pasar yang sepanjang tahun 2011 lalu menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan terus berlanjut memasuki awal tahun baru 2012 ini. Walaupun dibayang-bayangi oleh kemungkinan dampak krisis yang masih menggantung di Eropa dan AS serta potensi inflasi seiring rencana kenaikan BBM, permintaan di semua sektor properti di Jakarta yang dipantau oleh Jones Lang LaSalle masih stabil di kisaran positif dimana hal tersebut terus mendorong kenaikan harga properti, dimana harga sewa ruang kantor Grade A di CBD menunjukkan pertumbuhan yang paling tinggi. Demikian kesimpulan paparan yang disampaikan oleh Jones Lang LaSalle, konsultan properti internasional yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat, dalam acara Media Briefing yang diadakan pada hari Rabu, 11 April 2012 di Jakarta.

Todd Lauchlan
sebagai Country Head Jones Lang LaSalle di Indonesia mengatakan bahwa kondisi ekonomi dan bisnis yang semakin kondusif terus mendorong ekspansi perusahaan-perusahaan, dimana hal tersebut memberikan kontribusi yang besar khususnya bagi sektor perkantoran komersial dan apartemen sewa. Tidak hanya dari tenant-tenant yang sudah ada, permintaan ruang kantor juga berasal dari perusahaan-perusahaan yang baru akan membuka usahanya di Indonesia, kata Todd. Berdasarkan survey Jones Lang LaSalle, penyerapan ruang kantor di daerah CBD (segitiga emas) sepanjang triwulan I 2012 mencapai sekitar 73,000 m2. Dibanding triwulan sebelumnya memang ada penurunan, akan tetapi penurunan ini lebih banyak disebabkan karena terbatasnya ruang berkualitas yang tersedia dipasar, lanjut Todd. Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan ruang kantor di daerah CBD terkonsentrasi di gedung-gedung Grade A yang menunjukkan tingginya minat akan ruang kantor berkualitas (flight-to-quality). Akan tetapi seiring menipisnya ruang yang tersedia di segmen tersebut, tingkat penyerapannya menurun dimana hal tersebut menguntungkan gedung-gedung Grade B yang menikmati kelimpahan permintaan dari gedung-gedung Grade A. lebih lanjut Todd menambahkan bahwa seiring kenaikan tingkat hunian, harga sewa ruang kantor di daerah CBD meningkat sebesar 5% (q-o-q) dimana kenaikan tertinggi di capai gedung-gedung Grade A yaitu sebesar 8% (q-o-q). Sementara itu, Angela Wibawa yang membawahi bagian Project Leasing di Jones Lang LaSalle mengatakan bahwa tren yang sama juga terjadi di daerah Non-CBD dimana permintaan meningkat sebesar 13% menjadi sekitar 40,000 m2 - kontribusi terbesar berasal dari penyerapan ruang kantor di Jakarta Selatan dan Jakarta Barat. Dalam hal pertumbuhan harga sewa, Angela menambahkan bahwa kenaikan tertinggi juga terjadi di Jakarta Barat (6%) dan Jakarta Selatan (5%) dan secara keseluruhan kenaikan harga sewa di daerah Non-CBD mencapai sekitar 4% (q-o-q).

Di sektor ritel, Anton Sitorus, Head of Research di konsultan properti Jones Lang LaSalle mengatakan bahwa minat peritel baik lokal maupun asing tetap tinggi. Seiring dengan pertumbuhan daya beli konsumen dan peningkatan gaya hidup masyarakat Jakarta, sektor ritel bertumbuh secara positif terlihat dari pertumbuhan outlet ritel baru, baik yang ada di dalam pusat-pusat perbelanjaan maupun di luarnya. Di sektor pusat perbelanjaan sewa di Jakarta, penyerapan selama triwulan 1 2012 mencapai sekitar 38,000 m2. Lambatnya pembukaan toko oleh sejumlah penyewa di pusat-pusat perbelanjaan baru mengakibatkan tingkat penyerapan dalam periode terlihat menurun. Diperkirakan memasuki paruh kedua, tingkat hunian mal yang saat ini berada di kisaran 87% akan naik mengingat tingginya pre-commitment rate di sejumlah mal yang akan masuk pasar tahun ini, kata Anton.

Sementara itu, tingkat suku bunga pinjaman yang rendah terus mendorong pembelian kondominium baik oleh end-user maupun juga investor. Luke Rowe, Residential Project Marketing Group Head di kantor Jones Lang LaSalle mengatakan bahwa sepanjang triwulan ini, total penjualan kondominium baru di Jakarta mencapai sekitar 2,000 unit. Makin maraknya minat konsumen membeli properti residential di dalam kota mendorong sejumlah pengembang untuk meluncurkan proyek-proyek baru mereka. Tercatat lebih dari 1,000 unit yang berasal dari 4 proyek kondominim baru, mulai di jual ke pasar dalam periode ini, kata Luke. Tren positif juga terjadi di sektor apartemen sewa. Seiring dengan ekspansi bisnis sejumlah perusahaaan di Jakarta yang membutuhkan tenaga kerja asing, permintaan akan unit apartemen sewa terus bertumbuh dan dalam triwulan ini mencapai sekitar 164 unit. Hal tersebut mendorong tingkat hunian apartemen di Jakarta naik menjadi sekitar 82.5%.

Lucy Rumantir, yang menjabat sebagai Chairman Jones Lang LaSalle Indonesia mengatakan bahwa pertumbuhan pasar properti dalam negeri belakangan ini tidak lepas dari membaiknya fundamental perekonomian Indonesia serta menguatnya sentimen investor termasuk yang dari luar negri akan iklim investasi di tanah air. Apalagi dengan kondisi seperti sekarang ini dimana Eropa dan Amerika bahkan juga beberapa pasar di Asia, saat ini masih sedang fokus pada usaha untuk keluar dari krisis sehingga banyak investor internasional yang mencari pasar alternatif – dalam hal ini Indonesia merupakan salah satu pilihan yang menarik apalagi sejak diraihnya status investment grade baru-baru ini. Oleh karena itu, kedepannya pasar properti di Indonesia masih akan terus menunjukkan pertumbuhan yang menarik dan sangat berpotensi menjadi pilihan investasi yang menguntungkan, tutup Lucy.